Blog

Image

6 Dampak Hustle Culture yang Membahayakan Kesehatan

January 4th, 2022

sfidnfits.com – Istilah ‘hustle’ saat ini banyak disenangi orang. Benar sekali, dalam beberapa situasi hustle culture adalah hal yang baik, tapi di lingkungan kerja justru sebaliknya. Apa lagi kita hidup dalam dunia yang sangat kompetitif dan serba cepat ini. Tidak mengherankan bila hustle culture menjadi norma, bahkan kebiasaan bagi banyak orang di dunia kerja.

Millenial, terutama yang baru saja lulus dan berstatus masih lajang memiliki ambisi yang besar untuk bekerja yang kemudian melanggengkan hustle culture. Hustle culture menunjukkan seberapa sibuk mereka dan hal ini telah menjadi standar bagi banyak orang untuk mengukur hal-hal yang berkaitan dengan produktivitas dan kinerja.

Namun kenyataanya, hustle culture tidak sehebat yang dibayangkan. Kebiasaan seperti ini berbahaya, baik bagi individu maupun lingkungan tempat kerja secara umum. Hustle culture mungkin tampak seperti hal yang baik di atas kertas, tetapi dalam praktiknya, setidaknya ada banyak hal yang membuat Anda harus sangat berhati-hati.

 

6 Dampak Hustle Culture yang Membahayakan Kesehatan


Apa itu hustle culture?


Hustle culture adalah budaya yang membuat Anda mencurahkan seluruh hidup Anda untuk bekerja secara terus menerus. Tidak ada waktu keluar, semua yang Anda lakukan adalah untuk bekerja. Di kantor, luar kantor, rumah, dan bahkan di kedai kopi pun Anda akan terus bekerja, tidak ada yang lain.

Di zaman sekarang, hustle culture adalah pola pikir, filosofi, dan kehidupan yang dianut oleh banyak orang, baik oleh individu maupun perusahaan. Ketika Anda berbicara tentang hustle culture, semakin banyak Anda bekerja, maka semakin terkenal dan sukses Anda.

Waktu Anda akan selalu produktif, bahkan Anda juga bisa melewatkan waktu makan dan istirahat demi bekerja. Dalam hustle culture, istirahat adalah untuk yang lemah. Meski hustle culture yang semakin populer dan menjadi tolok ukur praktik terbaik di banyak tempat kerja, tapi sekali lagi, hal itu tidak sehebat apa yang dibayangkan.

 

Dampak hustle culture bagi kesehatan


Ketika gagasan mencapai kesuksesan menonjol dalam pola pikir masyarakat dan semakin banyak orang yang menjadi korban dari gagasan hustle culture ini, maka orang akan mulai menghitung kesuksesan dalam angka dan angka. Semakin banyak angka dan semakin baik angkanya, maka itu berarti Anda benar-benar sukses. Namun, perasaan haus akan terus hadir. Anda akan terus merasa kurang dan saat itulah segalanya menjadi sia-sia.  

Nah, berikut ada beberapa dampak buruk dan berbahaya yang menjadi bagian dari hustle culture:

1. Merusak produktivitas dan kreativitas

Sibuk dan bekerja secara terus menerus tampak seperti hal menarik yang menunjukkan bahwa Anda sangat produktif, tapi sebenarnya apa yang dicapai? Tahukah Anda bahwa bekerja terlalu lama menyebabkan masalah kesehatan mental yang lebih buruk dan kecemasan yang meningkat. Pertanyaan selanjutnya adalah hasil kerja seperti apa yang Anda harapkan jika Anda merasakan hal seperti itu?

Hustle culture hanya membuat Anda menyelesaikan pekerjaan sebanyak mungkin dengan sedikit memperhatikan kualitas pekerjaan yang dihasilkan. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa bekerja berjam-jam dapat merusak produktivitas dan kreatifitas, terlebih bila Anda melakukannya dalam jangka panjang.

 

2. Hustle culture hanya berfokus pada kuantitas, bukan kualitas

Terlalu banyak hal yang Anda kerjakan tidak selalu berarti semua itu sempurna. Misalnya, jika Anda harus menyelesaikan 10 proposal proyek pekerjaan adalah kunci untuk mencapai tujuan Anda, tapi ternyata 7 dari 10 proposal tersebut tidak layak dibaca dan isinya kacau, maka Anda hanya buang-buang waktu dan tenaga. 3 diantaranya hanya yang diterima.

Jadi, ingatlah bahwa produktivitas yang lebih baik adalah kualitas, bukan kuantitas. Jika Anda hustle culture yang hanya berfokus pada kuantitas, maka hal itu tidak hanya merugikan kesehatan Anda, tapi juga berbahaya bagi pekerjaan. Yang mana, pekerjaan yang Anda kerjakan semua menjadi kacau dan tidak terkendali.

 

3. Menyebabkan segudang masalah kesehatan

Secara fisik dan mental, hustle culture akan membebani tubuh Anda. Dengan banyaknya tekanan untuk mematuhi komitmen yang dibuat untuk pekerjaan Anda, Anda akan sering menciptakan dan menetapkan kebiasaan yang tidak sehat untuk mempertahankan pekerjaan yang Anda miliki ini.

Misalnya saja, Anda akan mulai mengonsumsi kafein di tengah malam untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai atau mengerjakan pekerjaan sampingan, kurang tidur setiap hari, melewatkan makan, dan hal lainnya yang dibutuhkan tubuh Anda untuk berfungsi 100%. Anda kehilangan minat pada hobi yang Anda sukai, tidak punya waktu untuk perawatan diri, dan tidak punya waktu untuk bersosialisasi.

 



4. Berdampak pada kesehatan mental

Memaksa terus bekerja dengan pola pikir ‘berangkat pagi, pulang malam’, hustle culture dapat membuat tubuh merasa kelelahan. Stres yang terus menerus tubuh Anda rasakan akan melepaskan hormon kortisol dalam jumlah yang lebih tinggi untuk periode yang lebih lama. Untuk menormalkannya pada jumlah yang stabil, maka Anda harus istirahat. Ketika tubuh tidak mendapatkan jumlah istirahat yang diinginkan, kelelahan tidak bisa dihindari.

Burnout adalah bentuk kelelahan yang disebabkan oleh perasaan kelelahan yang terus-menerus. Ini adalah hasil dari stres emosional, fisik, dan mental yang berlebihan dan berkepanjangan. Stres yang terus menerus ini dapat membahayakan kesehatan mental dan fisik Anda. Peningkatan kadar kortisol yang berkepanjangan dikaitkan dengan berbagai efek merugikan, termasuk kecemasan, depresi, penyakit jantung, gangguan memori, peningkatan amarah dan agitasi, dan banyak lagi.

 

5. Hustle culture itu menipu

Hustle culture itu benar-benar menipu. Orang yang menikmati hasil dari pekerjaan yang Anda lakukan bukanlah diri Anda sendiri, melainkan manager dan pemilik perusahaan tempat Anda bekerja. Rasa lelah dan stres yang Anda rasakan hasilnya tidak untuk Anda dan ini adalah pernyataan nyata yang menyakitkan. Bahkan, jika Anda dibayar untuk lembur, apakah itu sepadan dengan stres dan kecemasan yang datang saat Anda terlalu banyak bekerja? Bagaimana Anda bisa menikmati hasil kerja Anda ketika Anda tidak punya waktu untuk hal lain kecuali bekerja?

 

6. Hustle culture bisa mengancam nyawa

Jika Anda mencari budaya yang orang-orangnya gila kerja, Jepang mungkin adalah tempat pertama yang harus Anda cari. Perhatian mereka terkait gaya kerjanya berorientasi pada detail yang bagus, banyak yang melampaui dan terus ada yang lebih baik. Hal itu tidak hanya merugikan kesehatan mereka, tetapi juga mengorbankan nyawa mereka.

The Guardian melaporkan bahwa seorang jurnalis berusia 31 tahun bernama Miwa Sado benar-benar bekerja terlalu keras sampai mati. Dia menderita gagal jantung setelah mencatat 159 jam lembur. Yang lainnya, bahkan bunuh diri karena stres dengan jam kerja yang panjang.

Terlalu banyak bekerja menyebabkan kesehatan mental yang lebih buruk, lebih banyak kecemasan dan kecenderungan yang lebih besar untuk depresi. Terlalu banyak pekerjaan dapat menyebabkan banyak penyakit dan kondisi yang tidak membuat Anda merasa bahagia sama sekali.

Itulah tadi sederet pembahasan tentang dampak buruk hustle culture bagi kesehatan. Jika memang Anda ingin produktif, maka lakukanlah dan ingat juga tentang kepuasan dan kebahagiaan diri Anda. Memiliki hidup yang seimbang itu perlu agar Anda bisa menikmati hidup ini. Bekerjalah sesuai porsinya, sisanya Anda harus bisa bersenang-senang dengan diri Anda sendiri.

 

Referensi:

Runrun. Hustle Culture: More Harmful Than Helpful.

Edtimes, (2021). ResearchED: Hustle Culture Can Create Mental Health Issues As Per Studies.

Shopfactory. Why Hustle Culture isn’t peak productivity.

Goodhousekeeping, (2021). How to Identify Hustle Culture and What You Can Do to Break Away From It.